Kiamat
masih jauh, untuk kita yang sedang patah hati…
“Engkau
yang sedang patah hati, menangislah dan jangan ragu ungkapkan.. betapa pedih
hati yang tersakiti, racun yang membunuhmu secara perlahan…….. anggaplah semua
ini satu langkah dewasakan diri..”
Sepenggal
lirik lagu Last Child- Pedih ini benar2 menyentuh…J
Well,
10 Maret 2012… Tepat tiga minggu dari patah hati yang menyakitkan itu..
Menyakitkan, karena hubungan ini 1 bulan lagi genap berusia dua tahun. Usia
yang ku pikir sudah cukup dewasa untuk sebuah hubungan yang dibangun atas dasar
cinta dua individu berbeda karakter ini. Diawali dengan baik2 dan diakhiri
dengan rasa sakit yang luar biasa.. Begitu kira2 kalimat yang tepat untuk
menggambarkan bagaimana hubungan ini akhirnya aku nyatakan: BERAKHIR.
Siapa
sangka Valentine malam itu menjadi Valentine terakhirku bersama dia. Hari itu
semua berjalan baik, sama sekali tidak ada prasangka buruk bahwa ada rasa
jengah yang tengah disembunyikan di balik senyum manis itu. Siapa sangka,
selama ini kata “aku sayang kamu” hanya sekedar kalimat tanpa makna untuk
membuatku tersenyum. Sakit rasanya ketika Sabtu itu, empat hari setelah
Valentine, senyumku harus kandas oleh sebuah kata putus. Betapapun aku memohon,
tokh hatinya memang sudah tidak ada
untukku. Entah kata apa yang bisa melukiskan perasaanku, bagaimana hancurnya
hatiku saat harus menerima kenyataan bahwa dia yang selama ini bersama-sama
dengan aku ternyata sudah lama tidak merasa bahagia. Tidak bahagia, tidak
menemukan dirinya, dan belum siap pacaran. Tiga alasan itu yang sampai sekarang
masih belum masuk dalam logikaku, mengingat hubungan ini sudah berjalan cukup
lama dan terlihat baik2 saja. Well,
sekali lagi, siapa sangka…………….
Tiga
minggu setelah putus... Air mata sudah kering dan semoga tidak akan keluar
lagi. Beruntung, aku urung menyimpan semua luka ini sendiri karena ternyata sharing adalah jalan keluar yang baik
untuk sebuah momen patah hati. Sharing dengan
keluarga dan sahabat2 yang setia mendengar ceritamu dari awal sampai akhir, rela
menyeka air matamu dengan tangannya, menyediakan pundak untukmu rebah sejenak,
dan tidak segan untuk menamparmu ketika kamu mulai terlihat sangat lemah. Ya,
aku sempat berada di titik terjauhku dalam patah hati: berpikir bahwa mati muda
itu baik untuk mengakhiri segala luka ini.
Haha..
Aku tidak pernah menyangka, patah hati bisa membuatku berpikir pendek seperti
itu. Sekarang, aku hanya cukup menertawakan kebodohanku yang ingin mati saat
itu. Untung aku masih hidup saat ini, jadi aku masih bisa berteriak kepada
Tuhan yang di Surga bahwa AKU BERUNTUNG SUDAH PUTUS. TERIMAKASIH UNTUK PATAH
HATI INI. AKU BENAR2 BERUNTUNG. AKU BEBAS!!!!!
Yah,
aku baru minggu ini bisa bilang aku beruntung. Setelah proses pemikiran yang
panjang, setelah nasihat yang datang dari segala penjuru, setelah air mata ini
kering dan logika mulai normal. Ya, aku beruntung. Aku beruntung bisa lepas
dari segala rasa ngenes dan
tertekanku selama hampir dua tahun ini. Aku sudah terlalu banyak memendam rasa
sakit yang tidak terungkap hanya karena alasan tidak mau ribut. Air mataku
sudah terlalu banyak keluar untuk ucapan dan perlakuan yang menurutku, tidak
seharusnya ku terima. Sudah cukup. Aku mau bahagia sekarang!
Aku
bukan tidak bahagia selama menjalin hubungan yang kemarin. Aku bahagia, aku
senang, aku tersenyum, aku bisa tertawa terbahak-bahak selama bersamanya. Aku
banyak belajar hal baru, punya teman2 baru, keluarga baru, dan yang pasti,
pengalaman baru. Aku belajar berbagi, menerima pasangan apa adanya, belajar
menyayangi, belajar banyak. Tapi, tidak sedikit juga semua kebahagiaan itu
sebenarnya semu. Cinta dan sayang yang teramat dalamlah yang membuatnya
beberapa dari kebahagiaan itu tampak benar2 indah.
Kadang
rasanya menyesal, kenapa harus mengenalnya sampai akhirnya berkomitmen untuk
bersama. Andai saja aku tahu aku bakal disakiti.. Tapi, aku sadar, betapapun
aku menyesal dan membencinya, tokh aku tetap akan patah hati. Cinta tak dapat
dipaksakan. Walau terasa sepihak, aku beruntung bukan aku yang menyakitinya.
Aku terlalu sayang untuk tega membuatnya sakit. Biar aku yang sakit. Biar aku
yang belajar untuk bangkit dari jatuh yang menyakitkan. Biar aku yang merasa
beruntung punya Tuhan, keluarga, dan sahabat yang selalu ada untukku.
Jomblo,
rasanya memang aneh setelah ber-in a
relationship selama hampir dua tahun terakhir. Tapi tokh, semuanya masih baik2 saja sekarang. Sempat terbersit lagi
rasa sakit itu, saat mendengar kabar keberhasilannya mengejar mimpinya, meraih juara
dalam lomba yang membuat kami jauh itu. Seperti narapidana yang akhirnya
divonis bebas, begitulah dia di mataku sekarang. Selama ini mungkin memang aku
bak penjara buatnya, yang membatasi ruang geraknya sebagai individu yang ingin
bebas. Aku tidak menyadarinya, dan itu adalah sebuah kebodohan.
Tiga
minggu setelah resmi sendiri, aku mulai merasa nikmatnya bebas. Bebas menjadi
diriku yang ceria, yang bebas berpendapat tanpa takut dimarahi. Aku bebas! Kini
saatnya melakukan apa yang selama ini hanya menjadi bahan tertawaan buatku:
MOVE ON. Aku bisa melakukan semuanya sendiri. Aku bukan wanita lemah yang
seharusnya menggantungkan hidupku pada pria yang tidak benar2 mencintaiku. Aku
wanita baik, dan aku yakin aku pantas mendapatkan pendamping yang bisa
membuatku merasa sebagai wanita seutuhnya. Aku ingin bahagia, ingin dicintai.
Bukan terus mencintai seperti yang selama ini aku perjuangkan untuk selalu aku
lakukan. Aku berhak untuk merasa bahagia, sama seperti dia yang kini tengah di
atas awan menuju karir. Aku bisa tanpa dia, aku bisa. Kiamat mungkin masih
dekat, tapi juga masih jauh untuk aku yang kini tengah menikmati hidupku
sebagai seorang wanita bebas! J
“Kita
semua berhak untuk pergi dan mendapatkan kedamaian; tetapi orang lain pantas
kehilangan kedamaian dengan caranya sendiri” (Ajahn Bramn).
No comments:
Post a Comment