Saturday, March 10, 2012

PATAH HATI= BERUNTUNG!


Kiamat masih jauh, untuk kita yang sedang patah hati…
“Engkau yang sedang patah hati, menangislah dan jangan ragu ungkapkan.. betapa pedih hati yang tersakiti, racun yang membunuhmu secara perlahan…….. anggaplah semua ini satu langkah dewasakan diri..”
Sepenggal lirik lagu Last Child- Pedih ini benar2 menyentuh…J

Well, 10 Maret 2012… Tepat tiga minggu dari patah hati yang menyakitkan itu.. Menyakitkan, karena hubungan ini 1 bulan lagi genap berusia dua tahun. Usia yang ku pikir sudah cukup dewasa untuk sebuah hubungan yang dibangun atas dasar cinta dua individu berbeda karakter ini. Diawali dengan baik2 dan diakhiri dengan rasa sakit yang luar biasa.. Begitu kira2 kalimat yang tepat untuk menggambarkan bagaimana hubungan ini akhirnya aku nyatakan: BERAKHIR.
Siapa sangka Valentine malam itu menjadi Valentine terakhirku bersama dia. Hari itu semua berjalan baik, sama sekali tidak ada prasangka buruk bahwa ada rasa jengah yang tengah disembunyikan di balik senyum manis itu. Siapa sangka, selama ini kata “aku sayang kamu” hanya sekedar kalimat tanpa makna untuk membuatku tersenyum. Sakit rasanya ketika Sabtu itu, empat hari setelah Valentine, senyumku harus kandas oleh sebuah kata putus. Betapapun aku memohon, tokh hatinya memang sudah tidak ada untukku. Entah kata apa yang bisa melukiskan perasaanku, bagaimana hancurnya hatiku saat harus menerima kenyataan bahwa dia yang selama ini bersama-sama dengan aku ternyata sudah lama tidak merasa bahagia. Tidak bahagia, tidak menemukan dirinya, dan belum siap pacaran. Tiga alasan itu yang sampai sekarang masih belum masuk dalam logikaku, mengingat hubungan ini sudah berjalan cukup lama dan terlihat baik2 saja. Well, sekali lagi, siapa sangka…………….
Tiga minggu setelah putus... Air mata sudah kering dan semoga tidak akan keluar lagi. Beruntung, aku urung menyimpan semua luka ini sendiri karena ternyata sharing adalah jalan keluar yang baik untuk sebuah momen patah hati. Sharing dengan keluarga dan sahabat2 yang setia mendengar ceritamu dari awal sampai akhir, rela menyeka air matamu dengan tangannya, menyediakan pundak untukmu rebah sejenak, dan tidak segan untuk menamparmu ketika kamu mulai terlihat sangat lemah. Ya, aku sempat berada di titik terjauhku dalam patah hati: berpikir bahwa mati muda itu baik untuk mengakhiri segala luka ini.
Haha.. Aku tidak pernah menyangka, patah hati bisa membuatku berpikir pendek seperti itu. Sekarang, aku hanya cukup menertawakan kebodohanku yang ingin mati saat itu. Untung aku masih hidup saat ini, jadi aku masih bisa berteriak kepada Tuhan yang di Surga bahwa AKU BERUNTUNG SUDAH PUTUS. TERIMAKASIH UNTUK PATAH HATI INI. AKU BENAR2 BERUNTUNG. AKU BEBAS!!!!!
Yah, aku baru minggu ini bisa bilang aku beruntung. Setelah proses pemikiran yang panjang, setelah nasihat yang datang dari segala penjuru, setelah air mata ini kering dan logika mulai normal. Ya, aku beruntung. Aku beruntung bisa lepas dari segala rasa ngenes dan tertekanku selama hampir dua tahun ini. Aku sudah terlalu banyak memendam rasa sakit yang tidak terungkap hanya karena alasan tidak mau ribut. Air mataku sudah terlalu banyak keluar untuk ucapan dan perlakuan yang menurutku, tidak seharusnya ku terima. Sudah cukup. Aku mau bahagia sekarang!
Aku bukan tidak bahagia selama menjalin hubungan yang kemarin. Aku bahagia, aku senang, aku tersenyum, aku bisa tertawa terbahak-bahak selama bersamanya. Aku banyak belajar hal baru, punya teman2 baru, keluarga baru, dan yang pasti, pengalaman baru. Aku belajar berbagi, menerima pasangan apa adanya, belajar menyayangi, belajar banyak. Tapi, tidak sedikit juga semua kebahagiaan itu sebenarnya semu. Cinta dan sayang yang teramat dalamlah yang membuatnya beberapa dari kebahagiaan itu tampak benar2 indah.
Kadang rasanya menyesal, kenapa harus mengenalnya sampai akhirnya berkomitmen untuk bersama. Andai saja aku tahu aku bakal disakiti.. Tapi, aku sadar, betapapun aku menyesal dan membencinya, tokh aku tetap akan patah hati. Cinta tak dapat dipaksakan. Walau terasa sepihak, aku beruntung bukan aku yang menyakitinya. Aku terlalu sayang untuk tega membuatnya sakit. Biar aku yang sakit. Biar aku yang belajar untuk bangkit dari jatuh yang menyakitkan. Biar aku yang merasa beruntung punya Tuhan, keluarga, dan sahabat yang selalu ada untukku.
Jomblo, rasanya memang aneh setelah ber-in a relationship selama hampir dua tahun terakhir. Tapi tokh, semuanya masih baik2 saja sekarang. Sempat terbersit lagi rasa sakit itu, saat mendengar kabar keberhasilannya mengejar mimpinya, meraih juara dalam lomba yang membuat kami jauh itu. Seperti narapidana yang akhirnya divonis bebas, begitulah dia di mataku sekarang. Selama ini mungkin memang aku bak penjara buatnya, yang membatasi ruang geraknya sebagai individu yang ingin bebas. Aku tidak menyadarinya, dan itu adalah sebuah kebodohan.
Tiga minggu setelah resmi sendiri, aku mulai merasa nikmatnya bebas. Bebas menjadi diriku yang ceria, yang bebas berpendapat tanpa takut dimarahi. Aku bebas! Kini saatnya melakukan apa yang selama ini hanya menjadi bahan tertawaan buatku: MOVE ON. Aku bisa melakukan semuanya sendiri. Aku bukan wanita lemah yang seharusnya menggantungkan hidupku pada pria yang tidak benar2 mencintaiku. Aku wanita baik, dan aku yakin aku pantas mendapatkan pendamping yang bisa membuatku merasa sebagai wanita seutuhnya. Aku ingin bahagia, ingin dicintai. Bukan terus mencintai seperti yang selama ini aku perjuangkan untuk selalu aku lakukan. Aku berhak untuk merasa bahagia, sama seperti dia yang kini tengah di atas awan menuju karir. Aku bisa tanpa dia, aku bisa. Kiamat mungkin masih dekat, tapi juga masih jauh untuk aku yang kini tengah menikmati hidupku sebagai seorang wanita bebas! J

“Kita semua berhak untuk pergi dan mendapatkan kedamaian; tetapi orang lain pantas kehilangan kedamaian dengan caranya sendiri” (Ajahn Bramn).


No comments:

Post a Comment