Saturday, March 31, 2012

Nikah muda??


Gak jadi nikah muda ah! J

Sampai setidaknya 1 minggu sebelum nulis ini, aku masih pengen banget nikah muda. Gak tau ya, kayanya enak aja gitu, kalo suatu saat nanti anak kita udah gede kitanya masih muda. Masih oke buat diajak jeng-jeng bareng anak kita. Serba manis deh bayanganku soal nikah muda.

Sempet tertohok waktu lagi asik debat di tempat kerja. Aku n beberapa temen ngobrolin soal asiknya nikah muda. Dalam perbincangan aneh itu (haha) ada aku, temen cewekku, dan 1 cowok. Cewek2 ribut pengen nikah cepet, kalo bisa habis lulus langsung naik pelaminan sama someone special. Tar S2-nya dibayarin suami. Ato gak, kerja dulu 1 tahun, langsung deh jadi istri orang, hidup bahagia, punya baby. Alasannya klasik, nikah tua gak baik untuk cewek.

Pembicaraan itu sebenarnya rada timpang. Cuma aku yang jomblo di situ (grrrrr). Yang lain sih enak, bisa bayangin nikahnya mau sama sapa. Lah aku, bayangan suamiku udah kabur, wes ra ono calon. Asem… Well, back to the topic. Tiba2, saat lagi ketawa-ketiwi ngomongin nikah muda, temen cowokku tanya: “emang mimpimu cuma nikah muda ya Tin?”

Waaaaaaaaaa….. mak jleb!!! Huhu… Otakku kemakan nikah muda. Padahal seingetku, dari jaman kecil dulu, cita2ku selalu tinggi. Pernah pingin banget jadi dokter anak, gara2 dokter ku dulu baik banget. Terakhir, pengen jadi wanita karir, apapun kerjaannya. Gaji minimal 5 juta pokoknya! Well, intinya aku selalu bermimpi jadi wanita mandiri yang bisa beli apa2 sendiri dari hasil jerih payah, bisa bahagiain ortu, keluarga…

Bayangan nikah muda sedikit mematikan mimpiku. Untunglah, mimpi itu hidup lagi gara2 pertanyaan mak jleb itu J Thx, K*i*0…

Libur Nyepi, pulang ke rumah… Suatu sore yang tidak direncanakan, tante n sepupuku yang masih kelas 5 itu dateng ke rumah. Tante cerita banyak soal silsilah keluarga kami yang katanya ada darah birunya itu. Haha… Agak bingung sih, whateva… Dari sekian jam obrolan kami, yang paling bebekas adalah bab nikah muda. Tante kasih gambaran soal kehidupan pernikahan, gimana tar kita harus siap ketika tau kebiasaan suami yang gak nampak pas pacaran, ngadepin mertua, belajar masak, sosialisasi ke tetangga, sampai masalah SEX!

“Nikah tu gak gampang, gak semanis yang kamu bayangin”, begitu kira2 inti dari pesan tante. Nikah bukan sekedar hidup bersama orang yang dicintai, bikin anak, melahirkan, hidup bahagia sampai tua. Nikah butuh persiapan. Sekarang, udah gak jamannya ngandelin cinta. Kemapanan lebih penting. Bukan sekadar masalah dompet, tapi lebih ke hati. Hati yang siap berbagi plus taat sama yang di Atas. Prinsipnya, kalo kita cinta sama Tuhan, kita bakal pikir ribuan kali buat nyakitin pasangan kita.

Jaman masih punya pacar dulu (galau lagi), rasanya sih bakal sanggup2 aja nikah muda. Bermodal cinta yang menggebu, urusan uang bisa dicari belakangan. Sok ngerasa siap hidup susah, asal nikahnya sama Mr. X itu. Apapun, yang penting sama dia! Haha… Suka gak realistis dan sedikit gila memang kalo lagi jatuh cinta.

Padahal, siapapun pasti setuju kalo nikah itu gak mungkin semulus yang dibayangkan. Masalah2 kecil siap dateng buat mengganggu kemesraan yang maybe lagi hangat2nya, dan kalo gak segera diselesaikan bukan gak mungkin kata cerai itu muncul. C-E-R-A-I. Duh, amit2 deh!

Akir dari obrolan seru sama tante, aku sadar aku mungkin gak akan sekuat itu kalo suatu saat nanti nikah dengan modal cinta dan di tengah perjalanan, ada masalah besar muncul. Apapun bentuknya, aku tau seberapa kuatnya aku. Aku memilih buat memanfaatkan masa2 single bebas ini buat mencari apa itu yang disebut KEMAPANAN. Kemapanan, yang nanti bakal jadi modalku buat hidup bahagia sampai tua bersama dia yang juga mapan. Yang pasti, nikah muda bukan lagi sebuah mimpi yang harus dikejar, masa depan jauh lebih luas dari itu. Kejar karirku dulu, sampai jodoh dari Tuhan itu datang dan kami sama2 cukup mapan untuk melangkah lebih jauh J

March 30, nothing special anymore :(


30 Maret yang TIDAK BERARTI APA2 lagi SEKARANG…

30 Maret 2012… Hari ini, dua tahun lalu menjadi momen yang… eum… sangat menyenangkan! Siapa yang gak seneng kalo dapet pacar, dan lagi orang itu adalah orang yang udah kamu suka sejak lama… Haha… Tapi, itu dua tahun yang lalu…
Tahun ini ceritanya sudah berbeda… 30 Maret sudah bukan apa-apa lagi sekarang. Nothing special dan kalo diinget-inget malah jadi pengen ngamuk lagi (belum bisa move on ternyata L). Sayangnya, daya ingatku soal hari-hari special macam begitu sangat kuat dan yah… sehari sebelum tanggal 30 Maret itu, setelah ditahan berhari-hari, akhirnya air mata pun harus menetes lagi. Sudah tidak kuat… Sedih banget kalo inget dua tahun lalu!!! Huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

Untung aja, temen-temenku yang sedikit gak beres itu (sebut saja Anin, Fanny, dan Dany) ngajakin pergi ke Solo… Mau nyekar sih, tapi setidaknya ada kesempatan buat jalan-jalan habis itu. Perjalanan ke Solo dimulai jam setengah 12 siang… Hot... Hot… Serba hot deh hati dan cuaca hari itu. AC mobil pun gak mampu meredam panas dalem ini… Haha…
Sampai di Solo jam setengah 3… Lama juga, soalnya kami gak tau jalan. Ini kunjungan ku yang kedua kali ke Solo dan well, kota ini lumayan juga. Walaupun lebih panas dari Jogja, tapi banyak tempat jeng-jeng yang bisa memanjakan mata J. Soloooo… Suka deh! Denger-denger dari Bu Eti (tantenya Fanny), Solo banyak kemajuan sejak dipimpin Jokowi. Lebih teratur, lebih rapi, dan yang terpenting: rakyat lebih sejahtera!

Gara-gara kelamaan kongkow di rumah Bu Eti, rencana awal ke Solo Paragon harus diganti dengan makan di D’ Cost di Solo Square. Baiklah, tidak apa-apa yang penting jeng-jeng! :D Sebelum kesana, kami dibikin ketawa gara-gara ada warung bakso yang namanya ”Bakso Alex”. Haha… Lucu juga yah namanya… Rada pie, ngonooo…

Balik Jogja jam 10 malem… Sampai di kontrakan, rasanya masih sedikit galau karena di mobil terus-terusan dengerin lagu Judika yang salah satunya liriknya begini: “Mungkin kau bukanlah jodohku, bukan takdirku… Terus terang… Aku merindukanmu, setengah mati merindukanmuuuuu”… Damn! Lagu apaan itu L Tapi lagi-lagi untung, aku n Anin nyempetin nonton TVone sebelum tidur. Liat drama sidang paripurna DPR yang lagi bahas kenaikan BBM jadi bikin emosiku pindah ke TV. Nyebelin banget tu sidang: kacauuuuuuuuuuuu!!! Untung aja akhirnya BBM gak jadi naik (walau masih harus was-was gara-gara ada perubahan pasal itu).

Intinya dari tulisan ini: aku sedih, karena gak bisa ngerayain dua tahunan sama si dia… Masih ada ngarepnya untuk bisa ngerayain (hiks). Tapi, Tuhan baik. DIA kirim temen-temen buat ngehibur aku dan bikin aku sejenak lupa sama 30 Maret itu. Tuhan juga baik, ngingetin aku kalo seseorang di sana pasti gak inget dan gak ambil pusing sama sekali sama tanggal dan hari ini. Aku masih galau sampai detik aku nulis tulisan ini (soalnya aku habis sms si dia, sial gak tahan), tapi ada skripsi yang harus cepat dikerjakan. Susah, tapi mari mencoba kuat J

Saturday, March 10, 2012

Perpustakaan, aku, dan pengunjung


Perpustakaan, aku, dan pengunjung

2 Januari 2012, hari pertamaku bekerja sebagai student staff di perpustakaan kampus. Sampai sekarang, berarti sudah tiga bulan aku bergumul dengan buku2 itu. Sejak memutuskan untuk bekerja, ada banyak konsekuensi yang harus dijalani. Salah satunya adalah waktu tidurku yang berkurang. Shift pagi yang mengharuskan kami datang jam 8 memang terasa sedikit menyiksa setelah terbuai dengan kebiasaan bermalas-malasan selama libur Natal kemarin.

Tapi.. aku senang! Aku senang mendapat teman2 baru dari fakultas yang berbeda, karakter yang berbeda, cerita yang berbeda. Senang bisa mengobrol lepas dengan karyawan2 senior yang ramah, baik, dan tidak berlagak sok senior. Senang bisa belajar mengoperasikan mesin fotokopi yang besar itu. Senang bisa membeli barang2 dengan upah jerih payahku.

Di perpustakaan ini, aku belajar banyak tentang hal MELAYANI. Yap, melayani pengunjung yang datang untuk menikmati buku2 kami. Walau pengunjung rata2 adalah sesama mahasiswa, bukan berarti pekerjaan menjadi mudah. Ada kalanya rasa kesal tersulut melihat buku2 di rak menjadi sangat berantakan oleh ulah tangan2 jahil. Juga rasa lelah karena harus melayani pengunjung dengan berbagai watak dan permintaan. ”Mbak, buku ini di rak sebelah mana ya?” atau “mbak, cariin buku ini donk!” Kalimat2 itu yang hampir setiap hari singgah di telingaku. Dalam keadaan apa pun, aku harus belajar profesional dalam melayani pengunjung2 itu. Mereka tidak perlu tahu apa yang sedang aku rasakan, bahkan ketika aku tengah dirundung sakit pasca sakit hati sekalipun J

Melayani pengunjung, menyediakan jasa fotokopi, mencarikan buku yang mereka cari, dan menata ulang buku yang telah selesai dibaca dan dipinjam mereka. Begitulah rutinitasku sampai setidaknya tiga bulan ke depan. Lelah, tapi pengalamannya yang ku dapat harganya jauh melebihi setiap keringat yang keluar setiap harinya. Aku banyak belajar bahwa melayani bukanlah hal yang mudah. Melayani harus berawal dari rasa ikhlas, bukan paksaan. Melayani harus tanpa pandang bulu, harus sama rata, siapapun pengunjungnya. I love my job, my office, and the books J

PATAH HATI= BERUNTUNG!


Kiamat masih jauh, untuk kita yang sedang patah hati…
“Engkau yang sedang patah hati, menangislah dan jangan ragu ungkapkan.. betapa pedih hati yang tersakiti, racun yang membunuhmu secara perlahan…….. anggaplah semua ini satu langkah dewasakan diri..”
Sepenggal lirik lagu Last Child- Pedih ini benar2 menyentuh…J

Well, 10 Maret 2012… Tepat tiga minggu dari patah hati yang menyakitkan itu.. Menyakitkan, karena hubungan ini 1 bulan lagi genap berusia dua tahun. Usia yang ku pikir sudah cukup dewasa untuk sebuah hubungan yang dibangun atas dasar cinta dua individu berbeda karakter ini. Diawali dengan baik2 dan diakhiri dengan rasa sakit yang luar biasa.. Begitu kira2 kalimat yang tepat untuk menggambarkan bagaimana hubungan ini akhirnya aku nyatakan: BERAKHIR.
Siapa sangka Valentine malam itu menjadi Valentine terakhirku bersama dia. Hari itu semua berjalan baik, sama sekali tidak ada prasangka buruk bahwa ada rasa jengah yang tengah disembunyikan di balik senyum manis itu. Siapa sangka, selama ini kata “aku sayang kamu” hanya sekedar kalimat tanpa makna untuk membuatku tersenyum. Sakit rasanya ketika Sabtu itu, empat hari setelah Valentine, senyumku harus kandas oleh sebuah kata putus. Betapapun aku memohon, tokh hatinya memang sudah tidak ada untukku. Entah kata apa yang bisa melukiskan perasaanku, bagaimana hancurnya hatiku saat harus menerima kenyataan bahwa dia yang selama ini bersama-sama dengan aku ternyata sudah lama tidak merasa bahagia. Tidak bahagia, tidak menemukan dirinya, dan belum siap pacaran. Tiga alasan itu yang sampai sekarang masih belum masuk dalam logikaku, mengingat hubungan ini sudah berjalan cukup lama dan terlihat baik2 saja. Well, sekali lagi, siapa sangka…………….
Tiga minggu setelah putus... Air mata sudah kering dan semoga tidak akan keluar lagi. Beruntung, aku urung menyimpan semua luka ini sendiri karena ternyata sharing adalah jalan keluar yang baik untuk sebuah momen patah hati. Sharing dengan keluarga dan sahabat2 yang setia mendengar ceritamu dari awal sampai akhir, rela menyeka air matamu dengan tangannya, menyediakan pundak untukmu rebah sejenak, dan tidak segan untuk menamparmu ketika kamu mulai terlihat sangat lemah. Ya, aku sempat berada di titik terjauhku dalam patah hati: berpikir bahwa mati muda itu baik untuk mengakhiri segala luka ini.
Haha.. Aku tidak pernah menyangka, patah hati bisa membuatku berpikir pendek seperti itu. Sekarang, aku hanya cukup menertawakan kebodohanku yang ingin mati saat itu. Untung aku masih hidup saat ini, jadi aku masih bisa berteriak kepada Tuhan yang di Surga bahwa AKU BERUNTUNG SUDAH PUTUS. TERIMAKASIH UNTUK PATAH HATI INI. AKU BENAR2 BERUNTUNG. AKU BEBAS!!!!!
Yah, aku baru minggu ini bisa bilang aku beruntung. Setelah proses pemikiran yang panjang, setelah nasihat yang datang dari segala penjuru, setelah air mata ini kering dan logika mulai normal. Ya, aku beruntung. Aku beruntung bisa lepas dari segala rasa ngenes dan tertekanku selama hampir dua tahun ini. Aku sudah terlalu banyak memendam rasa sakit yang tidak terungkap hanya karena alasan tidak mau ribut. Air mataku sudah terlalu banyak keluar untuk ucapan dan perlakuan yang menurutku, tidak seharusnya ku terima. Sudah cukup. Aku mau bahagia sekarang!
Aku bukan tidak bahagia selama menjalin hubungan yang kemarin. Aku bahagia, aku senang, aku tersenyum, aku bisa tertawa terbahak-bahak selama bersamanya. Aku banyak belajar hal baru, punya teman2 baru, keluarga baru, dan yang pasti, pengalaman baru. Aku belajar berbagi, menerima pasangan apa adanya, belajar menyayangi, belajar banyak. Tapi, tidak sedikit juga semua kebahagiaan itu sebenarnya semu. Cinta dan sayang yang teramat dalamlah yang membuatnya beberapa dari kebahagiaan itu tampak benar2 indah.
Kadang rasanya menyesal, kenapa harus mengenalnya sampai akhirnya berkomitmen untuk bersama. Andai saja aku tahu aku bakal disakiti.. Tapi, aku sadar, betapapun aku menyesal dan membencinya, tokh aku tetap akan patah hati. Cinta tak dapat dipaksakan. Walau terasa sepihak, aku beruntung bukan aku yang menyakitinya. Aku terlalu sayang untuk tega membuatnya sakit. Biar aku yang sakit. Biar aku yang belajar untuk bangkit dari jatuh yang menyakitkan. Biar aku yang merasa beruntung punya Tuhan, keluarga, dan sahabat yang selalu ada untukku.
Jomblo, rasanya memang aneh setelah ber-in a relationship selama hampir dua tahun terakhir. Tapi tokh, semuanya masih baik2 saja sekarang. Sempat terbersit lagi rasa sakit itu, saat mendengar kabar keberhasilannya mengejar mimpinya, meraih juara dalam lomba yang membuat kami jauh itu. Seperti narapidana yang akhirnya divonis bebas, begitulah dia di mataku sekarang. Selama ini mungkin memang aku bak penjara buatnya, yang membatasi ruang geraknya sebagai individu yang ingin bebas. Aku tidak menyadarinya, dan itu adalah sebuah kebodohan.
Tiga minggu setelah resmi sendiri, aku mulai merasa nikmatnya bebas. Bebas menjadi diriku yang ceria, yang bebas berpendapat tanpa takut dimarahi. Aku bebas! Kini saatnya melakukan apa yang selama ini hanya menjadi bahan tertawaan buatku: MOVE ON. Aku bisa melakukan semuanya sendiri. Aku bukan wanita lemah yang seharusnya menggantungkan hidupku pada pria yang tidak benar2 mencintaiku. Aku wanita baik, dan aku yakin aku pantas mendapatkan pendamping yang bisa membuatku merasa sebagai wanita seutuhnya. Aku ingin bahagia, ingin dicintai. Bukan terus mencintai seperti yang selama ini aku perjuangkan untuk selalu aku lakukan. Aku berhak untuk merasa bahagia, sama seperti dia yang kini tengah di atas awan menuju karir. Aku bisa tanpa dia, aku bisa. Kiamat mungkin masih dekat, tapi juga masih jauh untuk aku yang kini tengah menikmati hidupku sebagai seorang wanita bebas! J

“Kita semua berhak untuk pergi dan mendapatkan kedamaian; tetapi orang lain pantas kehilangan kedamaian dengan caranya sendiri” (Ajahn Bramn).